11
Dec

Banyak yang berpendapat bahwa hubungan orangtua dengan anak merupakan pondasi bagi hubungannya dengan orang lain.Anak-anak akan memperlakukan orang lain sebagaimana orangtuanya memperlakukannya.Tidak semua anak akan mengambil sikap demikian, tergantung anak dan masalah yang di hadapinya. Ada dua sifat anak yaitu sikap yang bisa menerima dan tidak menerima.maksudnya…Anak yang bisa mengendalikan diri,  yang lebih kuat, tegar, walaupun sedikit rapuh, dan  tempramental, tetapi semangat hidup tetap ada, rapuh sesat, karena memang sikap orang tua sangat membawa pengaruh terhadap anak, sehingga sangat kecil kemungkinannya seorang anak tidak terpengaruh jika di hadapkan dengan satu masalah.Orang tua adalah aktor utama yang berperan penting dalam perkembangan anak yang dijelaskan dalam bentuk pola pengasuhan orang tua. Menurut Steinberg, pengasuhan orang tua memiliki dua komponen, yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktek pengasuhan (parenting practices). Gaya pengasuhan didefinisikan sebagai sekumpulan sikap yang dikomunikasikan kepada anak dimana perilaku orang tua diekspresikan sehingga menciptakan suasana emosional. Santrock dalam bukunya Educational Psychology (2011) menyinggung 4 macam parenting styles, yaitu authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent.

1. Authoritative Parenting
Orang tua yang authoritative berperilku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap meberi batas dan kontrol pada anaknya. Mereka memiliki standard namun juga memberi harapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Mereka menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orang tua dan anak. Hal ini mampu  memberi kesempatan kedua pihak (orang tua dan anak) untuk dapat saling memahami satu sama lain dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima kedua pihak.

Kualitas pengasuhan ini diyakini dapat lebih memicu  keberanian, motivasi, dan kemandirian. Pola asuh ini juga dapat mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial. Mereka juga tumbuh dengan baik, bahagia, penuh semangat, dan memiliki kemampuan pengendalian diri sehingga mereka memiliki kematangan sosial dan moral, lincah bersosial, adaptif, kreatif, tekun belajar di sekolah, serta mencapai prestasi belajar yang tinggi. Pada intinya, orang tua yang menggunakan pola authoritative dapat meningkatkan perasaan positif anak, memiliki kapabilitas untuk bertanggung jawab, dan  mandiri.

2. Authoritarian Parenting
Orang tua authoritarian menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standard yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Bila dibandingkan dengan pola asuh lainnya, orang tua authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan.

Pengasuhan dengan pola ini berpotensi memunculkan pemberontakan pada saat remaja, ketergantungan anak apada orang tua, merasa cemas dalam pembandingan sosial, gagal dalam aktivitas kreatif, dan tidak efektif dalam interaksi sosial. Ia juga cenderung kehilangan kemampuan bereksplorasi, mengucilkan diri, frustasi, tidak berani menghadapi tantangan, kurang berkeinginan mengetahi secara intelektual, kurang percaya diri, serta tidak bahagia.

3. Neglect Parenting
Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam  pola pengasuhan  ini, orang tua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak, mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apapun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, misalnya terkait peran dalam pekerjaan rumah dan perilaku sosial yang dapat diterima secara umum. Orang tua pola ini cenderung tidak tahu banyak tentang aktivitas anaknya. Mereka jarang berbicang-bincang dan hampir tidak mempedulikan pendapat anaknya dalam membuat keputusan.

Orang tua neglect atau indifferent bisa saja menganiaya anaknya, menerlantarkan anaknya, dan mengabaikan  kebutuhan  maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orang tua membuatnya terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga membuat anak minimal dalam segala aspek, baik kognisi, bermain, kemampuan emosional dan sosial termasuk kedekatan/kelekatan pada orang lain. Jika terus menerus terjadi, akan membuat anak berkemampuan rendah dalam menolerir frustasi, pengendalian emosi, perilaku, dan prestasi sekolahnya pun amat buruk. Ia sering kurang matang, kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut dan dibujuk teman sebayanya, serta kurang mampu menimbang posisinya.

4. Indulgent Parenting
Orang tua indulgent atu permissive berperilaku  highly  involved  pada anaknya. Mereka cenderung  menerima, lunak, dan lebih pasif dalam  kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih tetapi menempatkan sangat sedikit tuntutan terhadap perilaku anak dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orang tuanya mengizinkan ia mengambil keputusn meski belum mampu melakukannya. Orang tua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan  meluruskan  penyimpangan perilaku anak.

Baumrind (dalam Barus, 2003) menemukan bahwa anak yang menerima pola pengasuhan ini sangat tidak matang dalam berbagai aspek  psikososial. Mereka impulsive, tidak patuh, menentang jika diminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sesaatnya, kurang tenggang rasa, dan kurang toleran dalam bersosialisasi. Pemanjaan terhadap anak dapat menyuburkan keinginan ketergantungan dan melemahkan dorongan untuk berprestasi. Thornburg (dalam Barus, 2003) mengemukakan dua alasan mengapa anak yang diasuh dengan pola seperti ini tidak dapat ditingkatkan perilaku tanggung jawabnya. Yaitu, (1) parents who are permissive give little guidance or direction to their adolescents and (2) adolescents do not tend to model the behavior of a parent in the permissive home.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pola asuh orang tua begitu berpengaruh terhadap kondisi perkembangan anak termasuk dalam prestasinya. Bila anak berada dalam pengasuhan yang kondusif, maka anak akan terbantu dalam proses kematangan perkembangan kognitif, afeksi, dan konasinya. Anak yang dibesarkan dari keluarga authoritative lebih mapan secara psikososial dan lebih berprestasi dibandingkan anak-anak yang dibesarkan dari keluarga authoritarian, neglect, dan indulgent.

II. PERAN ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

Sudah dibahas di pendahuluan tadi bahwa orang tua merupakan faktor utama atau aktor penting dalam perkembangan anak. Berikut ingin saya jelaskan pentingnya peran orang tua melalui masalah yang satu ini:

“Banyak orang tua yang mengira ketika anaknya gagal dalam suatu ujian, dan menyalahkan anaknya dianggap kurang belajar atau kurang giat dalam belajar, tetapi ternyata ada kemungkinan pada peristiwa tersebut bahwa orang tua ikut membantu anak tersebut gagal dalam ujian. loh ? membantu gagal dalam ujian ? pada bahasan kali ini saya akan mencoba mengutarakan pendapat saya pada masalah ini.

 

1. PENTINGNYA DUKUNGAN / SUPPORT DARI ORANG TUA

Dukungan orang tua dalam hal memotivasi untuk anaknya giat dalam belajar tidak hanya dengan menyuruh belajar,belajar,dan belajar. Tapi bisa juga dengan menceritakan masa lalu tentang kerja keras orang tua tersebut dalam hal meraih kesuksesan, hal hal seperti itu secara psikologis bisa membuat anak termotivasi dan ingin lebih baik dari ayahnya.

Orang tua harus bisa selalu mendukung anak agar tetap termotivasi dan secara otomatis semua cita-cita anak bisa tercapai dengan adanya semangat. Sedangkan anak yang sangat mudah terpengaruh lebih ke perubahan sikap tempramental yang berlebihan.lebih ke tempramental dan bisa merugikan anak itu sendiri, terutama cara beradaptasinya.bisa menjadi gila karena tidak senggup menghadapi suatu masalah, merusak pergaulanya, merusak pengembangan dirinya, merusak masa depanya.

2. PENTINGNYA DUKUNGAN ORANG TUA DALAM HAL FINANCIAL DAN BIMBINGAN BELAJAR

Pada point yang ke dua ini saya ingin mengungkapkan bahwa dukungan orang tua dalam hal finansial dan bimbingan belajar sangatlah penting dalam perkembangan si anak. Contohnya memberi uang jajan, tetapi orang tua harus mengajarkan bagaimana caranya agar si anak bisa menghemat uang. contoh sederhananya orang tua dapat memotivasi anak untuk mengumpulkan uang dari sebagian uang jajannya, lalu jika telah mencapai target yang telah dicapai sang anak orang tua harus menjanjikan akan menambahkan uang untuk membeli sesuatu yang anaknya suka, atau bisa juga dari bimbingan belajar. Orang tua harus bisa memotivasi anaknya untuk serius dalam bimbingan belajar / di sekolah, dan orang tua akan memberikan hadiah jika anaknya tersebut dapat berhasil.

III. PRINSIP MENJADI ORANG TUA YANG BAIK

Prinsip menjadi Orang tua yang baik

1. Menyesuaikan diri dengan karakter anak

Terkadang orang tua lebih ego, sehingga anak merasa tidak nyaman dan merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya terutama sikap seorang ibu terhadap anaknya, tergantung karakter anak. Adapula anak yang tidak bisa menerima sikap orang tua terhadapnya.jika merasa apa yang dsampaikan dan apa yang dilakukan oleh orang tua tidak benar menurut si anak. jadi orang tua harus mulai menyesuaikan diri dengan karakter si anak tersebut.

2. Menjelaskan dan menerapkan aturan

Hal seperti ini sudah sering dilakukan banyak orang tua, orang tua harus bisa mendidik anaknya dengan cara menjelaskan dan menerapkan aturan tentang larangan larangan, dan orang tua harus menjelaskan mengapa hal tersebut dilarang agar sang anak paham dan berusaha untuk tidak melanggar aturan.

3. Menerapkan disiplin

Menerapkan disiplin kepada anak dapat membuat kepribadian anak menjadi baik dan jadi terbiasa dengan kedisiplinan. Contohnya misalkan bangun di pagi hari, belajar di malam hari, tidur tepat waktu, dll.

4. Memperlakukan anak dengan baik

Setiap orang tua perlu melakukan anak dengan baik, dalam arti agar si anak merasa nyaman dengan orang tuanya. Tidak perlu bertindak kasar kepada anak jika melakukan kesalahan, tapi yang harus dilakukan adalah beri peringatan dengan sedikit ancaman bahwa si anak harus berjanji tidak akan melanggar aturan atau tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

5. Menghindari kekerasan

Kekerasan merupakan tindak terlarang bagi dan oleh siapa saja. Oleh karena itu orang tua tidak boleh atau tidak dianjurkan menggunakan kekerasan ketika marah dengan anak. Pemikiran orang tua haruslah lebih jernih dan lebih cerdas agar membuat si anak “jera” tanpa melakukan kekerasan.

6. Memberikan kasih sayang

Siapa yang tidak menyukai kasih sayang ? sekarang ini banyak anak yang merasa diberi cukup kebutuhan finansial, kebutuhan properti, tetapi tidak dalam hal kasih sayang. Oleh karena itu luangkanlah waktu setidaknya seminggu sekali dengan berlibur, berkomunikasi, dan mengembangkan hobi bersama anak tersebut.

sumber : http://malikiy11.wordpress.com/2013/11/08/tugas-softskill-peran-orang-tua-dalam-perkembangan-anak/

 

0 0 0 0 0
Copyright © 2014 Homeschooling HATI. All Rights Reserved.
Designed by Edward Fernando