25
Nov

Seorang anak berumur 11 tahun berjalan gontai menuju rumahnya. Rautnya menunjukkan ekspresi keragu-raguan hanya untuk membuka pintu. Akhirnya, ia memutuskan untuk memasuki rumahnya dan mengucapkan salam. Jawaban salam datang dari suara lembut Ibunya yang tengah berada di dapur.
“Wah, sudah pulang. Bagaimana hasil ulanganmu, Nak?” tanya Ibu yang segera menemui anaknya.
Sang anakpun hanya tertunduk lesu. Dengan terpaksa ia menyerahkan hasil ulangan matematikanya. “Maaf Bu…”
“50? nilai kamu kok segini? Kamu gak belajar? kemarin IPA juga jelek, ini matematika jelek lagi,” cerocos sang Ibu yang ternyata belum selesai, ” Ya sudah, sekarang kamu ganti baju, sholat, makan. Abis itu kita belajar ya, Ibu ajarin sampai kamu bisa.”
Sang anak hanya bisa pasrah dan mengangguk. Di pikirannya, ia salah dan belajar tambahan adalah resiko yang harus ia tanggung.

Ada yang salah dengan dengan cerita di atas? Sekilas tidak. Namun,….
Sudah menjadi hukum yang berlaku di Indonesia bahwa pendidikan di Indonesia menganut paham ‘score oriented’, maksudnya, tingkat kecerdasan seseorang anak tergantung dari nilainya di sekolah. Anak yang nilainya baik dianggap ‘pintar’, dan yang nilainya jelek masuk kategori ‘bodoh’. ketika dapat nilai bagus, dipuji, tetapi jika sebaliknya, dimarahi. Para pelaku pendidikan menganggap itu sebagai upaya standarisasi pendidikan. Mereka membuat kurikulum pendidikan, termasuk di dalamnya materi dan target yang harus dicapai. Sayangnya, kemampuan muridnya sebagian besar hanya dinilai dari skor ulangan dan tugas untuk pelajaran yang diajarkan. Sementara, kemampuan akademik didominasi oleh otak kiri. Hallooooowwww….struktur tubuh kita tidak hanya terdidri dari otak kiri kaleeeeesss….>_<
Hebatnya Tuhan, Dia menciptakan kita tidak sama. Bahkan, sepasang kembar yang identik pun merupakan dua individu yang berbeda. Jika Tuhan menciptakan kita berbeda, kenapa kita harus menyamakannya? Satu-satunya hal yang harus disamakan dari kita adalah “kesamaan hak dalam memperoleh sesuatu”
Demikian pula dalam hal skor/nilai akademik. Anak yang lemah dalam matematika dan IPA, bukan berarti dia bodoh. Mungkin saja, dia berbakat jadi sastrawan. Anak yang lemah dalam hal pelajaran hafalan juga bukan berarti malas. Bisa jadi dia lebih senang melakukan penelitian yang berbasis ilmu ‘ketidakpastian’. Adapun menggambar, bermain bola, menyanyi, juga bisa menjadi sesuatu yang hebat jika dikembangkan.
JANGAN MEMAKSA! Tidak semua anak mampu menguasai semua ilmu di sekolah. Justru, anak akan MENJADI BODOH ketika kita memaksanya untuk bisa, mengharuskannya mendapat nilai baik di semua mata pelajaran. Sebagai contoh : sang anak berbakat menulis, tapi tuntutan di sekolahnya dan tekanan dari orang tuanya untuk mendapat nilai yang baik, serta cercaan teman-temannya yang ‘merasa lebih pintar’ membuat sang anak hanya disibukkan dengan kegiatan belajar tiap harinya. Sayangnya, sang anak cepat bosan belajar. Dia kesulitan menyamai teman-temannya yang lebih pintar. Bersamaan dengan hal itu pula, kemampuan menulisnya perlahan hilang. Akhirnya, sang anak yang berbakat inipun kehilangan bakatnya. Tidak lagi menjadi istimewa, ia hanya anak biasa.
JANGAN KATAKAN IA BODOH. Tidak bisa dalam satu hal, bukan berarti dia bodoh. Dia bukan bodoh, hanya saja dia berbakat pada hal lain atau mungkin juga dia belum menemukan bakatnya. Hal ini juga yang perlu kita tekankan pada anak-anak kita sejak kecil. Jangan biarkan anak merasa ‘pintar’ ketika ia unggul dari teman-temanya, dan jangan biarkan anak merasa ‘bodoh’ ketika ia tertinggal. Tekankanlah bahwa setiap anak punya kemampuan dan bakat yang berbeda. Biasakan ia bersyukur dan tidak takabur, biasakan ia untuk berbagi ilmu jika ia lebih tahu (kecuali saat ulangan/tes lainnya), dan biasakan juga ia untuk selalu belajar banyak hal, baik ‘by text book’, ‘by doing’, or ”by experience’. Pada dasarnya, tidak ada anak yang bodoh, hanya ada anak yang malas.
“Every Children is unique, we should make them sepecial”

(Nf)

3 0 0 0 0
Copyright © 2014 Homeschooling HATI. All Rights Reserved.
Designed by Edward Fernando