30
Jun

Bukan lagi menjadi rahasia bahwa di Indonesia masih terjadi kesenjangan pendidikan yang tinggi, khususnya antara penikmat pendidikan di perkotaan dan pedalaman. Di daerah Jawa khususnya, sebagian besar masyarakatnya sudah menerima fasilitas pendidikan yang cukup layak dan memadahi. Sementara itu, di daerah pedalaman Irian, Kalimantan, dan Nusa Tenggara kondisinya berbeda jauh. Jangankan fasilitas, tenaga pendidiknya saja sangat jauh dari cukup. Seorang pengamat pendidikan, Yohanes Ruma S.Pd. menuliskan dalam artikelnya -Banyak sekolah yang gurunya hanya satu atau dua orang sedangkan kelas belajar ada 6 lokal. Memang sangat ironis jika kita amati secara cermat ibaratnya bagaikan tikus mati di lumbung padi.- Padahal, daerah – daerah itu memiliki  potensi sumber daya alam yang melimpah. Namun, sumber daya gurunya masih sangat terbatas. Mungkin lebih tepatnya bukan terbatas, tetapi masih bertumbuk di daerah perkotaan.

Dalam hal pendidikan, pemerintah sudah memiliki program yang cukup baik. Bahkan, 20% anggaran dialokasikan untuk pendidikan. Selain itu, sertifikasi guru untuk meningkatkan kualitas guru, pemberian fasilitas telah diupayakan. Sayangnya, ini hanya berlaku di daerah perkotaan. Anggaran yang mencapai 20% itu seharusnya juga menjadi hak siswa di daerah pedalaman untuk mendapatkan fasilitas seperti siswa di kota. Namun, pada kenyataannya tidak demikian. Banyak sekali siswa di daerah pedalaman yang kurang mendapatkan akses pendidikan yang baik sehingga mereka cenderung tertinggal dari siswa di perkotaan. Hasilnya terlihat pada ujian nasional atau ujian lain yang menyetarakan siswa dari seluruh wilayah di Indonesia. Siswa dari daerah pedalaman yang kebanyakan dari wilayah Indonesaia Tengah dan Timur memiliki skor yang cenderung lebih rendah. Terkesan malas? Bukan, mereka bukan malas. Mereka adalah korban kesenjangan pendidikan di Indonesia yang terkendala akses pendidikannya karena keterbatasan guru, keterbatasan akses internet, keterbatasan fasilitas, serta korban keacuhan pemerintah terhadap nasib mereka.

Beberapa tutor di Homeschholing HATI pernah mengajar anak – anak yang berasal dari wilayah luar Jawa. Betapa kagetnya para tutor ketika mendapati sang anak didik sangat gagap mengerjakan soal2 dasar yang seharusnya sudah lulus pada tingkat pendidikan sebelumnya. Merekapun cenderung kesulitan mengikuti pelajaran karena jauh tertinggal. Ini yang perlu menjadi perhatian kita semua. Kita harus sadar bahwa fenomena kesenjangan pendidikan ini masih ada lho, masih ada! Masih menurut Yohanes, keberhasilan  pendidikan di Indonesia dapat terwujud jika terlaksananya beberapa hal berikut, diantaranya : pelayanan pendidikan dilakukan secara menyeluruh (baik di perkotaan maupun pedalaman, baik di Jawa maupun Papua), perhatian khusus pada nasib guru swasta maupun negeri serta kesejahteraan mereka terkait gaji yang perlu disesuaikan dengan jarak dan letak lokasi mengajar, serta evaluasi menyeluruh sebelum dilakukan perubahan kurikulum.

Khusus untuk siswa dari berbagai daerah di Indonesia yang berada di Surabaya dan sekitarnya apabila kesulitan dalam mengikuti ritme pendidikan di Jawa atau Surabaya dan sekitarnya khususnya Homeschooling HATI dapat menjadi wadah bagi anak-anak yang kesulitan mengikuti ritme sekolah di perkotaaan dengan pendekatan pembelajaran individual. “Berbagi Ilmu dengan Hati”

(source : http://thuruyohanes05.blogspot.com/2014/02/kesenjangan-pendidikan-di-indonesia.html)

 

 

0 0 0 0 0
Copyright © 2014 Homeschooling HATI. All Rights Reserved.
Designed by Edward Fernando