4
May

Mengapa belajar itu penting? Sang Motivator Om Mario Teguh said :

“Orang yang lebih tahu tidak akan bisa disamai oleh ribuan orang yang tidak tahu. Orang yang tahu menjadi lebih bernilai daripada yang tidak tahu. Jadi, murid SMA yang membolos dan melarikan diri dari pelajaran saat teman-temannya belajar memang kelihatannya enjoy sekarang, tapi pasti akan stres karena tidak dihargai di masa depan.’ – MT

Terkhusus di era modern saat ini, jamannya globalisasi, sudah menjadi tuntutan bagi setiap individu untuk belajar. Belajar adalah syarat mutlak untuk bisa bertahan hidup. Bahkan perintah untuk belajar ada di setiap kitab suci agama manapun, baik tersirat maupun tersurat.

Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina.”(HR Ibnu Adi dan Al Baihaqi dari Anas)’

Belajarlah apa saja. Mulai dari belajar mengenai mukjizat dan kebesaran Tuhan, sampai spesifik belajar mngenai ilmu matematika, baca tulis, sosial, dan seni. Lebih dalam lagi belajar tentang membuat masakan yang enak, bertani, sampai menggembala kambing.  Orang yang berilmu, tidak menilai sesuatu dengan prasangka, tetapi dengan logika. Orang berilmu tidak memutuskan sesuatu dengan tergesa – gesa, tetapi dengan hati tenang dan kepala dingin. Orang berilmu tidak menilai orang lain lebih rendah melainkan percaya setiap individu itu unik karena dibalik kekurangannya tersimpan keistimewaanya. Namun demikian, tidaklah istimewa orang yang tidak mau belajar.

Tuntutan belajar saat ini sudah jauh lebih mudah dibandingkan masa nenek moyang kita terdahulu. Adanya internet dan majunya teknologi sangat mempermudah kita untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang kita butuhkan. Namun, di balik itu semua juga terdapat dampak negatif yang mengancam. Kebebasan akses internet sudah mengubah pola pergaulan anak – anak saat ini. Banyak anak – anak usia sekolah yang terjerumus ke hal – hal negatif mulai dari merokok, hingga narkoba dan seks bebas akibat pergaulannya. Di sisi lain, tingginya tuntutan belajar di sekolah sangat menyita waktu bermain dan pengembangan diri anak selain dari pencapaian nilai akademik.

Sistem pembelajaran formal yang ditetapkan oleh pemerintah memang mampu membawa para pejuang ilmu Indonesia meraih berbagai medali olimpiade fisika, matematika, robotik, dll. Namun, apalah arti medali jika anak tidak lulus Ujian Nasional (UN) karena terlalu sibuk belajar olimpiade? Apalah arti medali jika anak tidak punya waktu bermain yang cukup, sehingga menjadikannya pribadi yang kaku dan tidak peka? Karena semua orang istimewa, perlakukanlah mereka secara istimewa. Salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah sistem belajar homeschooling.

Homeschooling menurut direktur Pendidikan Masyarakat Departement Pendidikan Nasional Ella Yulaelawati, adalah proses layanan pendidikan secara sadar, teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua atau keluarga. Proses belajar-mengajar dilakukan dalam suasana kondusif. Bukan berarti anak  terus -menerus belajar di rumah, tetapi anak – anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asalkan anak merasakan kenyamanan like at home. Jam belajar sangat fleksibel sesuai dengan kesepakatan antara anak, orangtua/keluarga, dan pengajar.

Keunggulan homeschooling diantaranya, belajar dan pergaulan anak sangat terpantau oleh keluarga. Pencapaian tidak perlu seribet sekolah formal dengan target nilai tertentu. Pembelajaran bisa lebih spesifik tergantung minat dan bakat anak. Kreativitas anak juga dapat dikembangkan secara maksimal. Dan yang paling penting adalah, karena pergaulan anakpun dapat turut terpantau sehingga anak terhindar dari pengaruh buruk pergaulan modern.

Homeschooling HATI hadir sebagai salah satu pendukung kegiatan belajar / sekolah rumah. Orang tua tidak perlu khawatir dengan perkembangan dan pendidikan anak karena Homeschooling HATI ditangani oleh tutor – tutor berpengalaman dan senantiasa mengajarkan dengan HATI. Sistem pembelajaran yang menyenangkan tetapi juga terstruktur dapat menjadi tempat belajar insan – insan muda sang generasi penerus Bangsa. (Nf)

0 0 0 0 0
Copyright © 2014 Homeschooling HATI. All Rights Reserved.
Designed by Edward Fernando