27
May

index

1. Mungkin Anak mengalami kecemasan yang tersembunyi

Kecemasan yang tersembunyi ini disebabkan oleh banyak faktor. Ya, bisa jadi tuntutan yang terlalu tinggi dari kita orangtua atau mungkin bahkan dari gurunya. Tuntutan ini tidak bisa membuat si anak menunjukkan kualitas optimalnya. Sehingga ketika ulangan, yang terbayang adalah ketakutan bahwa dia tidak bisa memenuhi tutuntan dari si orangtua.  Ketika cemas maka kanak tidak bisa berpikir secara jernih. Kita tentu pernah mengalaminya bukan? Ketika kita sedang cemas, sedang stres berat, hal yang sepele tentunya bisa jadi terlupakan. Nah ini yang terjadi pada anak-anak kita. Mereka cemas karena tuntutan kita yang terlalu tinggi, atau keharusan untuk menguasai sesuatu.

 Ketika nilainya sudah jelek, dia sedih tetapi kita malah memarahi dia. Dia akan merasa bahwa dirinya tidak dipahami dan tidak dimengerti. Inilah yang harus dihindari dari kita para orang tua. Cobalah untuk memahami anak kita. Ujian sekolah itu laksana perang, selain strategi (dalam hal ini belajar) juga diperlukan mental yang siap (tanpa cemas) agar hasil yang diperoleh juga baik. Tugas orang tua adalah mendukungnya, membantunya belajar, menghiburnya ketika sedih dapat nilai jelek, memotivasinya agar mendapat hasil yang lebih baik di samping mencari-cari bakat sang anak yang mungkin terselip di sudut lain dirinya dan layak dikembangkan. Bukan menjadi orang tua yang sibuk mencari uang untuk membayar pengajar anaknya di sekolah terbaik, menuntutnya mendapatkan hasil yang baik, serta memenjarakan gurunya yang hanya sekedar ‘mencubit’ sang anak karena kenakalan sang anak.

2. Adanya perlakuan-perlakuan negatif yang pernah diterima anak

Misalnya, ketika seorang anak nilainya jelek, kemudian kita sebagai orangtua marah-marah, dan bahkan mungkin menghukumnya. Harus berdiri di pojok, tidak boleh makan. Atau apapun yang kita bisa lakukan untuk itu. Nah ketika dia menerima perlakuan itu, maka perlakuan itu akan membekas di ingatannya. Berikutnya ketika dia ulangan lagi di lain kesempatan, yang dia lihat di lembar soalnya bukan soal ujian, tetapi wajah orangtuanya yang sedang marah. Wajah ini tiba-tiba saja muncul terbayang di dalam pikirannya. Anda bisa bayangkan jika kita berhadapan dengan soal ujian dan kemudian yang muncul adalah ketakutan membayangkan wajah orangtua yang sedang marah, karena kita tidak bisa. Atau mungkin wajah guru yang mempermalukan kita di depan teman-teman kita. Maka semua yang kita pelajari tiba-tiba saja menjadi hilang dan akhirnya ulangannya jelek. Hmmmm…. jika memangsalah satu dari Anda pernah melakukannya, minta maaflah kepada anak Anda, karena belum tentu kita masih saling berjumpa di hari raya Idul Fitri dimana menjadi moment untuk saling bermaafan kan?

3. Kurangnya perhatian berkualitas.

Adalah hal yang sangat mungkin bagi oarang tua yang kurang memperhatikan anaknya menjadi salah satu faktor penyebab jeleknua nilai sang anak. Terkadang perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang diinginkan oleh si anak, maksudnya, adalah perhatian yang berkualitas. Dalam arti kita memperhatikan juga perasaan-perasaan si anak. Bukan cuma memperhatikan tugas-tugas yang harus dia selesaikan. Kebanyakan dari kita hanya memperhatikan tugas – tugas yang harus diselesaikan oleh seorang anak. Kita hanya memperhatikan sudah mengerjakan PR atau belum? Sudah belajar atau belum? Besok kalau ulangan sudah mempersiapkan alat tulisnya? Buku sudah disiapkan belum? Kita hanya memperhatikan aspek – aspek fisik tanpa memperhatikan aspek – aspek perasaan dari si anak, padahal itulah yang penting.

(Artikel ini disadur dari http://www.pendidikankarakter.com/ dengan sedikit improfisasi by Nf)

 

0 0 0 0 0
Copyright © 2014 Homeschooling HATI. All Rights Reserved.
Designed by Edward Fernando